Kegalauan Ibu Pekerja

image

Ketika nemuin meme ini di facebook rasanya jantung saya seperti tertikam belati. Walaupun saya belum pernah merasakan bagaimana jantung ditikam belati tapi karena melihat meme itu saya jadi tahu bagaimana rasanya, nah lho hehe.. (kok masih pake “hehe” ceritanya lagi sedih nih)😦

Seketika saya jadi tersadar oh iya, kenapa ya kita yang perempuan-perempuan ini tega nitipin anak ke baby sitter atau tempat penitipan anak lainnya dengan alasan “untuk masa depanmu nak”. Padahal kalo si anak bisa ngomong pun mungkin mereka akan bilang kalau mereka nggak butuh duit, mereka hanya butuh kita ibunya mendampingi mereka sepanjang hari, menemani mereka bermain, menenangkan mereka saat mereka menangis, memeluk mereka saat tidur.

Sekarang bukan hal aneh lagi banyak perempuan-perempuan yang berkarir diluar rumah, terbukti dikantor saya dominan sekali pegawai perempuan. Pegawai laki-lakinya bisa dihitung dengan jari saja. Kalau apel pagi kadang rame yang bawa balita gitu malahan pernah ada yang bawa bayi. Setelah apel banyak dari mereka yang mengantarkan anak nya ke penitipan. Kasihan sekali ya mereka, harus ditinggal dengan orang asing yang mungkin belum tentu aman buat mereka. Bagaimana jika mereka tidak dijaga dengan baik?…ah ngeri kalau mikir yang enggak-enggak.

Sebenarnya masalahnya ya ada sama ibu itu sendiri, bekerja atau tidak bekerja kan tinggal milih saja. Toh bekerja tidaklah kewajiban seorang ibu. Hanya saja masalahnya jadi berbeda ketika si ibulah yang jadi tulang punggung keluarga, atau penghasilan si ibu lebih banyak dari si bapak. Apalagi kalau si ibu kerjanya menjanjikan, susah untuk berhenti, terikat. Mau nggak mau harus bisa berperan ganda.

Kembali ke soal anak tadi ya. Sampai saat ini saya terus berfikir bagaimana caranya agar ibu yang bekerja tidak serta merta harus menelantarkan anaknya atau tidak menitipkannya pada orang lain?

Apa mungkin kita bisa mengharapkan suatu kebijakan dari pemerintah untuk memikirkan nasib-nasib ibu pekerja? Paling tidak adalah keringanan jam kerja yang beberapa waktu lalu sempat diwacanakan oleh wapres. Atau bisa juga dengan membatasi penerimaan pegawai perempuan. Toh kalau ibu-ibu tetap ingin bekerja bisa mencari pekerjaan yang stay dirumah saja atau tidak begitu mengikat.

Ah…entahlah, peraturan pemerintah tentang penting nya asi ekslusif saja tidak begitu mendapatkan perhatian. Masih banyak tempat-tempat kerja yang tidak menyediakan tempat untuk menyusui atau sekedar pumping saja.

Menurut sobat blogger bagaimana?

31 thoughts on “Kegalauan Ibu Pekerja

  1. Wah klo mengharapkan pemerintah, sepertinya itu jangka panjang ya. Ya dikembalikan saja ke masing-masing rumah tangga/ keluarga. Kadang suatu keluarga inti, sdh dapat dicukupi kebutuhannya oleh suami. Tapi istri jg perlu bekerja krn dia harus/ perlu membiayai kebutuhan orang tua/ saudaranya. Atau dia bekerja krn ingin bekerja (tdk semata krn materi). Atau yg kasihan: dia bekerja semata krn tdk kuat menghadapi pressure dari society yg mencibir: ‘cuma ibu rumah tangga ya?’

  2. kalo aku nggak galau lagi… udah lewat masa galaunya

    yup, itu pilihan. tiap pilihan punya konsekuensi. kalau milih di satu pilihan, maka aku siap juga dgn konsekuensi yg harus kutanggung.

    tiap keluar rumah dan di luar rumah, berdoa yg kenceng…

    memohon perlindungan Allah buat anak-anak di rumah. memohon ketenangan hati. konon katanya, kalo emaknya jg sedih bin gak tenang, anak-anak di rumah jg bisa ngerasain. jadi, stay calm with my choice🙂

  3. menjadi wanita yang bekerja di luar rumah dan menjadi ibu adalah dua persoalan yang berbeda. jika masing-masing sudah ditempatkan sesuai porsinya misal hak anak terpenuhi, hak orang lain dan diri sendiri, maka kenapa musti galau? terlebih kita yang bekerja di daerah mbak yang masih banyak kemudahan2 dan permakluman. semangat ya!

  4. ini salah satu alasan kenapa dulu galau banget pengen jadi dosen uniiii…tapi kembali lagi, masing-masing orang punya kondisi yang beda..kalau emang udah keadaannya harus dititipin anaknya ya mau gimana lagi, ntar gimana caranya pas waktu bareng anaknya dibikin lebih berkualitas *ngomongnya kayak yang udah ngerasain punya anak aja hihi*

    • klo dosen seharian full juga y fan?,dulu uni jg mikir gt jg fan..tp stelah punya anak dan ngerasain sdri gmna pisah seharian hiks dstu uni merasa galau😀

      • Hihi, terjadi pergolakan batin ya uni. Semoga yang terbaik selalu buat uni sekeluarga ya. Fny yakin uni pasti bisa ngebagi waktu dengan baik un, antara anak sama kerja🙂

  5. Kegalauan seperti ini banyak di alami oleh Ibu bekerja….tapi segala pilihan memang ada resiko…Dilema ? Iya banget ! Tinggal kita menyikapi dengan bijak…Bekerja bukan berarti mengabaikan anak..Bekerja bukan semata cari harta juga, karena terkadang kehidupan itu tak selalu yg kita harapkan dan inginkan, misalnya , ketika pasangan kita tak berdaya atau sakit, maka kitalah sebagai istri yang ambil bagian untuk memenuhi perekonomian rumah tangga agar anak2 tetap bisa makan, bisa sekolah dan lain2…🙂

  6. Setiap pilihan ada konsekwensinya. Pilihlah yang terbaik.
    Alangkah bijak kalau kantor menyediakan ruang bermain buat anak balita.
    Ngenes liat foto anak diatas.

  7. untuk pertanyaan mbak di blog saya, saya jawab di sini. khawatirnya tidak terbaca jika harus menunggu reply di posting tersebut

    ‘Kalo saya sih baru baca baca buku Ust Fauzil Adhim, mbak. Sebelumnya baca prophetic parenting sama menyambut buah hatinya Ibnu Qayyim”.

    Saya juga new comer dalam urusan parenting tpi sudah sejak lama mengamati pergolakan batin ibu yang bekerja. Kalo saya ke istri tetep menekankan keluarga nomer satu walau pun ia bekerja.

    Di kantor saya pun tidak menyediakan tempat khusus untuk ibu menyusui

    Di situ kadang saya merasa sedih

      • Istri sy msh kuliah mas. Tp walo begitu, sibuknya jg ga kalah sm yg kerja. Byk tugas dan mesti selesein tesis. Lebih lebih kejer lulus smt ini krn beasiswanya dibatesi.
        Saat ini msh dirawat sm keluarga juga. Pilihan paling rasional. Anak sy baru 1,5 bulan..

        Saya ngertiin banget gmn rasanya ninggalin bayi. Sy rasa ga ada ibu yg mau menemui anaknya hanya jam lepas kantor saja. Tapi setiap keputusan pst ada konsekuensi.
        Semoga mbak bisa dimudahkan menjalani peran sbg ibu.
        Termuat dlm salah satu artikel bhw lelah yg disukai Allah, salah satunya adl kelelahan saat mengurusi sang buah hati🙂

  8. saya menjumpai orang2 yg menitipkan bayinya ke pengasuh. mereka kekurangan waktu, biasanya wanita karir. saya salah satu anak yang waktu kecil jarang bersama orang tua, sebenernya bukan masalah tega atau tidak seorang orang tua. kalaupun mereka tega, saya seharusnya “membenci” mereka sekarang. tapi kebutuhan ibu saya dulu membuat saya memaklumi setelah bisa mikir. persoalannya, kepada siapakah anak dititipkan? itu sih

  9. 😀 aaa.. banyak yang cuap-cuap ya?! Hmm kalo (calon) istriku kan istri cerdas, bisa gabung kedua-duanya. dia kerja plus ngasuh anak, kerja online. :3 hehee

    Kalo bicara soal ibu pekerja.. harap kita lihat dari berbagai sisi Uni..

    Misalnya penghasilan suami gak mencukupi, apakah salah kalo istri ingin membantu?? pasti istrinya ada keinginan membantu kan?(sy yakin Uni juga bs mrasakan).
    Jadi yang terbaik adalah bagaimana ibu bisa tetap berperan aktif mendukung perkembangan si buah hati meskipun jadi pekerja.Kalo pun anaknya dititipkan ya ke ornag yang bisa dipercaya, dan bisa mengasuh.😀

  10. alinaun berkata:

    Halo mbak. Ini ud smcm fenomena ya. Hrga kebutuhan hidup sekarang melambung. Ad penelitian di semarang dr prof. Ku kalo istri yg bekerja mengurangi stres suami.

    Tp semoga ibu2 yg trpaksa kerja ttp bisa mmbagi waktu dg anak. Kdg ada yg terpaksa hrus nitipin krn kebutuhan hidup kurang mencukupi klo hanya dr suami.

    Tdk semua suami puny

  11. inilah dilema-nya kaum ibu..
    disatu sisi sukses karir tp yg dikorbankan adalah anak

    eniweeey sumpaaah, sedih banget gambarnya. menohok.
    olehnya, kenapa anak saya lebih baik di asuh kakek-neneknya ketimbang ke penitipan anak. Babehnya jg untungnya tidak risih bantuin saya jaga anak d kantor,hehehehe,, walopuuuun seluruh lelaki dunia mengutuk saya sebagai istri durjaanaaa,hahahaha

  12. kalau menurut saya sih, yg kerja cukup suami aja lah. jangan terlalu mengejar ‘harta’.
    mungkin sebagian orang tua yg bekerja dua duanya beralasan untuk masa depan anaknya. ketika ditanya, masa depan yg bagaimana? cukup materi tetapi kurang perhatian dari orang tua? padahal masa kecil adalah masa pembentukan fondasi awal karakter anak. dan yang perlu di ingat, anak kita cuma punya masa kecil sekali seumur hidup😀
    sebaik2 pengasuh bagi seorang anak kecil adalah orang tua kandung mereka loh.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s