Pengalaman Operasi Caesar (1)

image

sumber : google

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya menyerah melahirkan normal karena pembukaan yang terlalu lama plus tekanan mental karena berada disebelah pasien yang menjerit-jerit menjalani proses melahirkan. Tindakan operasi sebenarnya permintaan saya sendiri yang kemudian disetujui oleh dokter. Saya pun kurang tau apakah tindakan medis untuk mengupayakan lahiran normal sudah maksimal atau belum sehingga saya diizinkan untuk di caesar.

Sesuai prediksi dokter tanggal 27 September pagi saya menuju RS bersalin karena sudah ada tanda mau melahirkan walaupun saya tidak merasakan sakit apa-apa. Mungkin juga karena pengalaman pertama saya langsung latah menuju RS padahal bisa saja belum sakit karena belum ada pembukaan. Setelah diperiksa ternyata benar belum ada, namun saya langsung dirawatinap.

Seharian saya hanya mondar mandir di rumah sakit berharap rasa sakit itu datang. Tapi tetap saja rasanya biasa saja hanya perut yang semakin besar dengan tubuh saya yang pendek membuat saya agak susah berjalan dan bernafas. Sampai akhirnya malam hari ketika dokter memeriksa kembali tetap saja tidak ada perubahan dan saya diberi obat untuk pemancing rasa sakit.

Pasca dikasih obat malamnya emang sih tidur jadi gak nyaman tapi saya juga tidak tahu apa itu rasa sakit yang dimaksud.:mrgreen: Sampai akhirnya ketika saya mau turun dari tempat tidur paginya darah mulai berceceran setiap saya melangkah. Langsung saja saya lapor sama bidan jaga yang kebetulan waktu itu jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Saya langsung dibawa keruang bersalin, dan disana ternyata juga ada seorang pasien yang juga lagi siap-siap mau melahirkan.

Senang dong ada temennya..ya nggak lah secara tempat tidurnya bersebelahan yang dipisah hanya dengan tirai membuat privasi kita tidak terjaga. Apalagi pasien tersebut sering mengerang-erang menahan sakit satu lagi katanya anaknya posisinya nggak normal gitu. Dan saya waktu itu hanya bisa diam menenangkan pikiran setenang-tenangnya walau dalam hati sudah mulai menimbang-nimbang keputusan yang akan saya ambil.

Sembari tidur-tiduran nggak jelas sesekali bidan mencek kondisi saya apakah sudah merasakan sakit apa belum, saya bilang belum karena memang belum ada rasa sakit yang membuat saya harus menjerit seperti pasien sebelah. Ataukah saya yang tahan banting entahlah…yang pasti memang belum sakit sebegitunya.

Sementara pasien yang disebelah semakin lama semakin menjadi-jadi karena kayaknya pembukaanya pun udah mulai banyak. Aih saya bingung sendiri karena waktu itu tirainya memang belum ditutup. Sambil menahan sakit pasien itu terus memanggil bidan sambil bilang “udah mau keluaaarr”,,” udah mau keluaaarrr”. lalu bidannya bilang “belum uni…rasanya emang gitu tapi belum, tunggu pembukaanya lengkap nanti kita kasih aba-aba”.

Kebayang nggak sih wajah saya waktu itu yang tiduran disebelah???? Sampai akhirnya si pasien itu udah hampir pembukaan lengkap tirai ditutup, dokter datang bersama bidan dan perawat dan dimulailah proses itu. Semuanya terdengar jelas dan secara tidak langsung saya menyaksikannya walau lewat tirai-tirai yang samar-samar. Nggak tahu juga apa namanya (maaf ya saya kebanyakan nggak tahu) ketika ada bunyi mesin drrrrrr gitu, dalam pikiran saya mungkin si pasien di vakum karena posisi bayinya nggak normal. Dan pastilah bayangan itu semakin mengerikan buat saya ditambah jeritan si pasien sangat mengambarkan betapa sakitnya rasa sakit yang ia rasakan.

Duh duh….sudah pasti semua keberanian yang sudah saya kumpulkan selama 9 bulan lenyap sudah, rasa sakit itu semakin hilang dan rasanya pengen lari dari tempat itu kalau boleh lahirannya ditunda kapan-kapan aja yaa..

Setelah si dokter selesai menangani pasien sebelah perlahan tapi pasti ia mulai mendekat ke arah saya. “Gimana buk??,…udah 24 jam yaa..” katanya. Dengan pasti saya menjawab “operasi aja dok..”. Sebelumnya saya juga udah nanya-nanya sama bidan bagaimana kalau operasi disana dan saya diberi pertimbangan banyak hal. Dan ketika menyaksikan pemandangan dan ke heroikan pasien sebelah saya menjawab iya walau setengah hati masih nggak rela. Namun tidak ada pilihan tho..

selanjutnya tidak ada baju operasi hanya kain sarung, semua peralatan dipasang dan ternyata di caesar itu lebih mengerikan dari apa yang saya bayangkan… postigan berikutnya aja ya..🙂

17 thoughts on “Pengalaman Operasi Caesar (1)

  1. Serem juga ya klo disebelah kita jerit2 kesakitan, serasa berikutnya giliran kita yang merasakan hehe. Saya ga sempat merasakn mules sebelum melahirkan, ga tau juga rasanya pembukaan, krn dokter rs hanya mau kalau saya operasi tdk melahirkan normal😀 .

  2. istri abang ipar saya akhir bulan lalu melahirkan cesar dan kurang berjalan lancar. akhirnya wanti-wanti ke adiknya agar ngelahirin normal aja

  3. Saya ikut megangin istri dan mencet perutnya waktu istri saya lahiran normal. Begitu berat perjuangannya, jadi pantes ganjarannya 3x lipat. Subhanallah…

  4. Bini gw sekarang sdg hamil nih.
    Plus minusnya normal atau cesar apaan sih?
    Emang kenapa hrs normal? Dan apa untungnya klo normal?

    Dr banyak cerita org2, rata2 yg lahir di Dokter kok sering cesar ya? Klo di bidan hampir pasti normal.

    *persiapan mental buat bini gw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s