Akhirnya saya memilih

Welcome november. Alhamdulillah masih ada satu setengah bulan lagi untuk bisa leha-leha menikmati cuti. Satu setengah bulan sebenarnya bukan waktu yang lama, tapi lumayanlaaah kalau tiap detiknya dibikin berkualitas.

Cuti berakhir berarti kembali ke rutinitas semula. Harus siap-siap lagi ketemu dengan seragam, komputer, angka-angka dan segala tugas yang menunggu untuk dikerjakan. Belum lagi sekarang status saya sudah berubah menjadi seorang ibu yang tentunya harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dikantor dan ngurus rumah termasuk sikecil.

image

sumber : google

Kira-kira kelabakan nggak nanti ya?? Trus ntar kalau kerja Ghifar dititip sama siapa??

Pertanyaan-pertanyaan itu bakal menghantui saya sampai hari H pertama masuk kerja nanti. Entahlah…kalau soal repot sih nggak masalah selagi masih sehat jiwa dan raga apapun pasti bisa dilakukan, namun soal ghifar dititipin dimana ini yang jadi masalah sebenarnya. Berhubung saya bekerja diluar kota dan harus berdomisili disana jadinya tidak ada keluarga yang bisa membantu untuk urusan ini, apalagi mama udah nggak ada kalau ada mungkin lain cerita.

Soal titip menitip rasanya riskan sekali anak sekecil itu harus dibawa ke penitipan. Apalagi dengar cerita-cerita mengerikan, dimana anaknya dikasih obat tidurlah, nggak dikasih makanlah, dan yang terakhir saya dengar kemaren itu anaknya nunik yang pulang dari penitipan dahinya biru. Pas ditanya sama pengasuh disana mereka jawabnya malah nggak tahu. hadewwww….

Untuk menyewa pengasuh pun rasanya saya juga nggak sreg. Rasanya nggak percaya aja gitu takut ntar orangnya nggak amanah. Lagipula nggak gampang juga cari pengasuh yang tepat di hati, kebanyakan abg-abg nanggung gitu yang kerjanya lebih sering liat hp. Tapi kalau saudara jauh sih masih bisa dipertimbangkan itupun musti dites dulu kali yaa…

Lagian kalau punya anak enaknya tu ya ngurus sendiri, kalau boleh minjem kata-katanya mbak rizki anak itu kan titipan masak mau dititipin lagi?????

Nah dilema banget rasanya antara kodrat sebagai perempuan dengan emansipasi. Kalo udah gini jadinya mikir kenapa kartini berjuang agar perempuan bisa unjuk gigi, padahal kan enak dirumah aja heheh apalagi kalau udah punya anak— gak usah dibahas ding:mrgreen: . Ngapain juga nyalahin bu kartini…salahin diri sendiri kenapa kerja😀

Ujung-ujungnya hidup itu yaa soal pilihan. Setiap pilihan komplit dengan kurang lebihnya. Nggak ada pilihan yang benar-benar sempurna. Ketika memilih pastikan kita siap dengan segala resiko, sehingga nggak ada yang namanya menyesal belakangan. Oleh karena itu juga akhirnya saya memilih untuk pindah dari tempat kerja sekarang ke tempat yang lebih dekat dengan rumah. Semoga saja nggak dipersulit, terlebih setelah dilantiknya presiden yang sekarang semoga tidak ada peraturan baru yang menyulitkan kepindahan saya ini. Amiin *hope* *hope*😉

16 thoughts on “Akhirnya saya memilih

  1. Amiiin.. Aku justru bersyukur jokowi bikin aturan gak nerima pns selama 5 tahun, hehe, jdnya aku kan gak perlu dilemaa.. Soalnya kayaknya klo jd pns itu terikat kayaknya..

  2. Anakku udah 4 bulan mbak. Dan aku udah masuk kerja sebulanan ini. Alhasil dititipin ke orangtua. Tapi tiap pulang malem rasanya .. pengen resign tapi gimana .. ah dilema banget😥
    Ayo kita semangat mbak😀

  3. Dini berkata:

    Iya nih. Kita hidup. Semua tentang pilihan. Ga ada yang ga memilih. Semangat. Semoga mendapatkan yang terbaik, aamiin.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s