Bukit Ilalang

Baru satu bulan berlalu semenjak hari itu. Dimana setiap detik mulai berjalan sangat pelan. Dimana kisah kita gadaikan sementara pada waktu dengan harapan bisa menebusnya kemudian. Aku kayuh lagi sepedaku menuju bukit itu, ditemani boneka penguin yang tak berhenti bergetar di keranjang depannya. Tempat dimana kita biasa memperhatikan serangga-serangga kecil yang unik lalu mengabadikanya dengan lensaku. Tempat dimana kita biasa membawa buku-buku bacaan kita lalu membacanya bersama sentuhan angin yang seperti tak sabar untuk membalik-balikan halamannya. Tempat dimana kita bercerita apa saja. Tempat dimana kita juga menulis, ya menulis apa saja. Bersama.

Ini baru satu bulan semenjak kepergianmu. Ah entah lah mungkin saja aku salah menghitung, satu bulan atau tidak yang pasti rasanya sudah lama aku tidak menemukan sosokmu dibukit itu. Meski demikian tetap saja aku ingin kesana, bertaruh dengan harapan, mendustakan hati, semoga menemukanmu sedang berdiri disana. Walau akhirnya hanya ada angin dan ilalang yang semakin tinggi.

Dan kini aku kembali datang ke bukit ini. Kucoba membuka buku tulis kecil berwarna biru hadiah terakhir sebelum kepergianmu. Katamu buku itu sebenarnya dua, sambil menunjukkan tulisan yang terpotong disana. Katamu juga jika waktu berbaik hati mempertemukan lagi aku akan tahu apa bacaan dari tulisan itu sebenarnya. Saat itu aku tersenyum, sama seperti saat sekarang ketika aku mencoba menuliskan satu huruf didalamnya. Bedanya  senyumku saat ini berkolaborasi dengan satu bulir air mata yang hangat.

buku kecil

Apa susahnya menuliskan satu kalimat saja. Tapi ternyata aku hanya sanggup menahan ujung penaku membentuk satu titik. Seperti kepergianmu waktu itu yang membuat semua yang kita pandang di bukit ini menjadi terhenti, membeku lalu selesai dan hilang. “Mari menangis” katamu, “karena menangis adalah satu bahasa yang telah kita kuasai sejak pertama menghirup udara di dunia ini”. Tapi aku tak ingin menangis didepanmu, aku ingin tetap tersenyum. Senyum karena aku bahagia sempat mengenalmu.

############################

Aku tak tahu ini sore keberapa aku mengayuh sepeda kebukit itu dengan boneka penguin yang bergetar-getar dikeranjang depannya. Masih sepi. Aku tak tau kapan kau akan hadir disini kembali. “Mungkin setahun atau lebih” katamu dulu. Entahlah.

Dalam hatiku berbisik , yang pasti, aku akan menunggu ceritamu tentang “Kopi rasa rindu”.

**ini entah cerita apaaaa???, mungkin tadi salah pake sampo sampe bikin postingan kayak gini >_<

ket : gambar di curi dari sini

12 thoughts on “Bukit Ilalang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s