Pandangan Pertama : Pada Pak Tua

cropped-jamgadang1.jpgDuduk-duduk atau sekedar lewat di taman Jam gadang memang bukanlah hal yang pertama kali bagiku. Namun ada yang tidak biasa ditangkap oleh kornea mataku pagi itu. Pagi itu, ketika temaram lampu-lampu taman mulai menyerah dengan surya yang mulai meninggi, ternyata ada yang tidak pernah menyerah dengan keriput lelah di wajahnya. Pagi itu, ketika keringatku bercucuran sehabis senam bersama pemadat Jam gadang lainnya, ternyata ada keringat yang begitu mulia juga berjatuhan saat itu, tetesan peluh yang jadi saksi atas janji, tanggung jawab dan harapan untuk orang-orang yang ia cintai.

Duduk-duduk atau sekedar lewat di taman Jam Gadang memang bukanlah hal yang pertama kali bagiku. Namun ada yang tidak biasa ditangkap oleh kornea mataku pagi itu. Pagi itu, ketika riuh jenaka keluarga berencana bahagia memenuhi taman kota, ternyata disana juga ada senyum simpul Pak Tua. Ketika para anak kecil berlari-lari mungil, ternyata disana juga ada keramahan Pak Tua, menawarkan masa kecil yang indah dari sekotak mainan yang beliau jual.

pak tua

Sesekali beliau menerbangkan mainan dari kertas yang menyerupai burung untuk menarik perhatian para pemadat taman. Terbang, lalu jatuh di agak kejauhan, mengambilnya dan menerbangkannya lagi, seperti menitip lelahnya terbang bersama mainan itu. Dan pikiranku hanya tertuju pada tubuh rentanya, “Pak, istirahat saja dirumah “.😦

Duduk-duduk atau sekedar lewat di taman Jam gadang memang bukanlah hal yang pertama kali bagiku. Namun ada yang tidak biasa ditangkap oleh kornea mataku pagi itu. Pagi itu, ditengah ramainya pedagang menggelar dagangannya di tanah taman, ternyata tak satu Pak Tua.

bapak2 Bapak4

Duduk-duduk atau sekedar lewat di taman Jam gadang memang bukanlah hal yang pertama kali bagiku. Namun pagi itu adalah Pandangan Pertamaku pada Pak Tua-Pak Tua yang berjualan disana. Pak Tua yang menurutku seharusnya mereka istirahat saja dirumah, tak perlu datang sepagi itu ditaman kota dan tak perlu penat menjual mainan-mainan itu.

Maafkan kamsonku yang telah menangkap gerak gerikmu Pak.😦

Postingan ini diikutsertakan dalam GiveawayPandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku”.

64 thoughts on “Pandangan Pertama : Pada Pak Tua

  1. Mungkin mereka justru senang dan bangga Izz masih bisa punya penghasilan sendiri, tak merepotkan orang lain, dan tentu saja dgn demikian mereka msh bisa bergerak terus, sehat badannya, daripada duduk duduk saja di rumah, walau pandangan masyarakat lain mungkin beda , ini mnrt pengalamanku merawat orang tua Izz, mama mertuaku, beliau justru sedih kalau diminta duduk duduk saja, dan akan senang apabila msh boleh membantuku dlm hal hal kecil karena berarti merasa msh dibutuhkan

    semoga menang ya GA nya

  2. Memang sedih selalu datang ketika saya melihat orang tua yang masih terus berjuang, apalagi ditengah2 keceriaan orang banyak, semoga dpak2 diatas diberkahi rezekinya.

    sukses ganya y ukhty..

  3. saya membayangkan apakah ketika saya tua, saya bisa seproduktif mereka. sekarang saja rasanya saya merasa tidak banyak berguna bagi diri sendiri dan orangtua. sementara mereka nggak kenal lelah mencari nafkah.

  4. Seneng dan terharu dengan posingan ini, tapi betul juga kata Mbak Ely, orang – orang tua di sekitar tempatku tinggal juga lebih suka beraktifitas daripada cuma duduk di rumah, padahal anak – anak mereka sudah menjadi orang sukses di kota tapi ‘beliau – beliau’ ini lebih senang hidup di desa dan bekerja semampunya.

    Semoga menang GA nya yaaa…..# komat kamit doa buat Izza..

    • iya ya mbak…
      mudah2n saja bapak2 diatas bekerja juga cuma mengisi waktu aja…dari pada duduk2 dirumah..

      makasih doanya mbak hhehe

  5. utie89 berkata:

    Sama mba, dengan mbah kakung-ku.
    Beliau sudah sangat renta, sepertinya lebih renta dari Pak Tua.

    Tapi ngga pernah mau berhenti kerja. Selagi masih bisa jalan, selalu berangkat. Kerjanya motongin rumput di rumah komplex. Miris kalau ngeliatnya.

    Tapi memang tabiatnya gitu mba, diajak leha2 di rumah anaknya ngga mau. Mungkin karena dulu sempat jadi korban penjajah, jadi bawaannya selalu pengen kerja keras, ngga bisa nganggur.

    Saluut.. saluut..

  6. Menurut saya bagus walau sudah usia lanjut tetap beraktifitas, kalau dirumah saja bisa suntuk. Jadi ingat bapakku selepas pensiun buka usaha cuci motor, katanya supaya tetap ada aktivitas, yg dulunya selalu sibuk di kantor kalau pensiun tidak beraktifitas malah bisa mendatangkan penyakit.

  7. Sama seperti pendapat-pendapat di atas, bapak-bapak itu mungkin masih bekerja untuk sekedar menambah kesibukan dan mereka menginginkan being old with dignity. Karena ada orang-orang yang ketika tua malah diabuse sama anak-anak atau orang tempat mereka tinggal.
    Semoga dagangan bapak-bapak itu laku ya Mba Izza

  8. saya bangga dengan pak tua di atas Za, usia bukanlah penghalang untuk terus berjuang, demi menafkahi keluarga…. kita yang muda harus mencontoh pak tua di atas yang tak kenal lelah, berusha dan terus berusaha….

    moga menang GA-nya Za….

  9. aduhhh…terharu banget bacanya..apalagi pakegmbar gitu izz..:D
    jauh beda ya sama anak2 zaman skrg..kbnyakan anak2 muda zmn skrg cuma ngandelin org tua..mls krja dgn alasan capek, gaji kecil, atau nggak cocok..kalah sama orang2 tua ky gitu…

  10. Tulisan yang apiiik. . .😉
    Senangnyaaa mba izza bisa ikut. . . 😉
    Betapa malunya kita sebagai generasi muda jika bermalas2an ya, Mba.Pak Tua saja masih semangat untuk mencari rejeki.😉

    Terimaksih sudah ikut meramaikan GA Langkah Catatanku ya, Mba. ^_*

  11. Salut sama mereka yang sudah tua namun tak mau menyerah begitu saja, masih ingin beguna, masih ingin berjuang untuk menghidupi kebutuhannya tanpa bergantung pada orang lain…seharusnya kita yang masih muda ga boleh and jangan mau kalah sama mereka…semangat yang selalu menginspirasi ^_^

  12. So appreciate buat pejuang2 keluarga demi sebuah tanggung jawab hingga diusianya yg sudah uzur…moga kita bisa mengikuti jejak niat dan semangat mereka demi keluarga… mari sama2 kita ungkapkan sebuah rasa buat mereka para pejuang keluarga…terima kasih bapak….

  13. semangat mereka untuk mencari nafkah seharusnya dicontoh yang muda.
    maaf mbak, bukan hanya di sana, saya kira di setiap tempat begituan pasti banyak juga.

  14. buburasem berkata:

    seharusnya tak layak lagi bagi mereka untuk bekerja, seharusnya mereka duduk tenang dirumah menikmati masa tua mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s