Mengejar Maling Part II

 

Biar nggak bingung baca part I dulu ok🙂

Buat yang udah nunggu kelanjutan cerita ini, makasih banget ya….🙂

7 Mei 2012

Setelah dikejutkan oleh balasan sms dari Umi, hanya satu hal yang terbesit dipikiranku. Hp si Nunik tentu lagi dipegang sama si Umi.

Aku : “Umi kakak kan nggak ada sms Umi, kakak WA ke HP Nunik kok, kok bisa Umi yang balas?”

Umi : “Oh iya kak…tadi kartu Umi lagi dipinjem sama temen, Umi  juga heran tuh kok bisa temen Umi punya HP BB, katanya sih beliinya 6 Ratus ribu, dan kayaknya emang punya kak Nunik kak”

AKu : “Umi dimana?, boleh kakak liat HPnya?”

Umi : “Hp siapa kak?, HP umi masih yang lama kok, kakak malam aja ke kos, nanti Umi mau pergi les kak”

Aku : “….ya deh ntar kakak ke Kos”

Umi : “Oh..yang punya HP tu udah pergi kak, tadi dia ke sekolah Umi, dia udah nggak sekolah kak, dia nggak tinggak disini, dia udah pergi kak”

Antara percaya dan tidak, aku tidak bisa menipu batinku ada rasa curiga yang amat besar terhadap Umi. Tapi apa mau dikata, Umi tetap berkilah menangkis segala serangan dari pertanyaanku yang sepertinya agak susah dijawabnya. Meskipun demikian, aku masih menyimpan sedikit rasa percaya pada Umi, mungkin saja apa yang disampaikan Umi memang benar, karena selama bergaul sama Umi memang tidak sikap Umi yang begitu mengangguku. Atau aku yang terlalu begok…??😀

Untuk lebih meyakinkan dan memperjelas keadaan, aku dan Nunik menemui Umi di kosnya malam itu. Aku dan Nunik telah menyiapkan banyak pertanyaan yang mungkin bisa saja mengungkap kejadian sebenarnya. Kami melangkah pasti, tak gentar, semangat 45+10-10/2 untuk mendapatkan kembali hp itu. Nyampe di Kos Umi, aku langsung saja bertanya gimana kejadianya….Umi membeberkan panjang lebar, aku saja sampai pusing mendengarkan penjelasan Umi yang berantakan dan kadang-kadang nggak nyambung. Sampai-sampai pertanyaan yang aku siapkan dengan Nunik sekarang kebanyakan huruf “O” nya aja alias lupa alias bingung.  :p

Coba saja analisa kata-kata Umi berikut ini :

  1. Awalnya Umi bilang, dia balas whatsapp ku lantaran ada temannya yang minjam kartu nya. Disini aja aku udah bingung, maksud nya apa gitu? .
  2. Pas aku tanya Hp nya mana, dia bilang orang nya udah pergi dan tinggal nya jauh, udah nggak sekolah.  Umi seperti bilang “orang nya udah pergi , gak bakal bisa dicari”.
  3. Hp itu dibeli temannya 6 ratus ribu. Pas aku ke kosnya tiba-tiba udah berubah aja, kata Umi HP itu ketemu dibawah pohon mangga, sejak kapan pohon mangga berbuah blackberry?. Trus aku tanya lagi eh katanya dia beli 6 Ratus ribu ke orang konter dan orang konter itu yang nemuin di bawah pohon mangga. Beuh….!
  4. Umi bilang temannya itu tidak begitu dekat dengannya, dan kebetulan siang itu ketemu. Tapi dilain kalimat Umi bilang kalau sore sebelumnya temannya itu mampir kerumah nanyain cara makai BB, dan Umi lihat foto-foto ku di BB itu (narsis numpang foto di BB orang). Pertanyaannya adalah kenapa Umi nggak bilang padaku????

Dan banyak lagi pernyataan Umi yang berhasil membuatku pusing. Penjelasan Umi seperti benang kusut, lebih susah mengerti penjelasan Umi dari pada menyelesaikan soal Integral tak tentu atau Trigonometri sekalipun. Nah sekarang, apa aku bodoh kalau masih percaya sama Umi yang bersikukuh bukan dia yang ambil HP itu?

Yang gilanya lagi, Umi bahkan ngasih nomor HP temannya itu padaku untuk aku hubungi. Dan bahkan Umi bilang dia akan usahain membujuk temannya itu buat mengembalikan HP Nunik. Nah lho bingungkan?????

8 Mei 2012

 

Jujur sebenarnya aku agak takut terlalu gegabah dengan urusan ini. Dalam pikiranku yang bodoh ini masih dan masih saja menyimpan sedikit percaya pada Umi, bisa saja kan Umi jujur kalau ternyata Hp si Nunik di tangan temannya, dan bisa saja kan HP itu memang di beli, dan bisa saja kan mungkin karena grogi atau apa makannya Umi menjelaskannya rada-rada belepotan. Semua bisa saja, makannya aku tetap mengusung tema cinta damai dalam masalah ini.😀

Aku mulai mengumpulkan bukti-bukti. Mulai dari meminta keterangan dari teman-teman satu kosan dengan Umi, minta pendapat sama Bapak Kos ku sampai minta pendapat sama Om nya Umi. Dari keterangan yang aku peroleh dari teman satu kos Umi, beberapa mereka mengakui mengatakan pernah melihat Umi memakai BB warna putih itu. Bahkan ada juga yang sempat nanyain ke Umi, dan Umi bilang itu punya cowoknya. Hmmm …tapi jangan kira dengan adanya saksi ini semua perkara jadi mudah untuk menyudutkan si Umi. Semua malah ribet karena nggak ada yang mau bantu aku dan Nunik. Nggak ada yang mau angkat suara lantaran nggak mau terlibat. Semua karena apa? Yak..Karena Mistis….!!! Karena takut dijahatin dengan kekuatan magic..(miris).

Belakangan aku baru sadar, walaupun ini sebuah pengalaman yang seru tapi sebenarnya cukup beresiko khususnya untukku sendiri. Sebagai pendatang di negeri sawit ini aku seharusnya sebisa mungkin aku harus bisa berpintar-pintar (bapandai-pandai/bersmart-smart), karena juga untuk keselamatan aku juga. (kok jadi seram gitu ya). Ditambah lagi  si Umi ini aslinya tinggal di (******) yang kata orang nih yaa..ingat kata orang lhoo…, kata orang tempat tingga si Umi ini masih kental banget dengan hal-hal mistis gitu. Aku jadi begidik.

9 Mei 2012

  Hari ini Umi punya inisiatif sendiri untuk sms aku. Tapi bukan untuk kabar baik, tapi kabar yang tak lain tak bukan apalagi kalau bukan nambah bingung. Umi bilang..

“Kak maaf ya bukannya Umi gimana, tapi Umi benar-benar nggak ada sangkut pautnya sama Hp tu, Umi juga nggak enak jadinya dikambinghitamkan kayak gini. Kalo kakak mau bilang polisi bilang aja, tapi Umi nggak mau ikut-ikutan lagi kak”

Gimana mungkin Umi tidak ikut-ikutan lagi, toh pertama kali balasan dari HP nunik itu aku terima dari nomornya si Umi. Aku berusaha tetap stay cool, walau sebenarnya udah capek ngurusin masalah ini. Aku mencoba seramah mungkin, walaupun aku tidak pernah belajar tentang psikologi tapi aku cukup paham trik-trik pendekatan secara psikologi hihi… tapi belum pernah aku praktekin. Mungkin ini saatnya …😀

Aku mencoba membujuk Umi, membuat dia senyaman mungkin bicara denganku. Bahkan tak segan-segan aku memanggilnya dengan sebutan “dek”, padahal dalam hatiku ogah banget..nggak aku banget gitu loch..wueeekkk :p. Tapi aku harus professional.  Aku juga mencoba bicara dari hati ke hati dengan Umi, berusaha menjadi tempat bicara paling aman buat dia. Bahkan aku bilang sama Umi, kalaupun Umi yang ngambil aku akan cari cara gimana caranya supaya Umi nggak keliahatn banget sebagai pencuri (walau aku nggak tau juga gimana caranya, yang penting ngomong aja kayak gitu dulu :D). Bicara sama Umi,  mengalahkan emosi, mundur selangkah untuk maju seribu langkah itu ternyata nggak mudah…karena tetap aja Umi bilang bukan dia, bukan dia dan bukan dia. Capek deeeehh :p

Nah ketika usaha ini nggak begitu menampakan hasil yang baik, aku mulai menaikkan levelnya. Aku mencoba percaya aja dulu sama apa yang dikatakan Umi, namun disamping itu aku memberikan Ultimatum yang mungkin bisa secara tidak langsung akan kena ke Umi kalau memang dia yang nyuri. Aku mengancam akan melaporkan teman Umi ke Polisi bila dalam beberapa hari ini masih tidak ada itikad baik dari dia. Haha..pinter juga ya aku😀. Gimana reaksi Umi? Ah reaksinya ya gitu lah, dibalik kata-kata terserahnya aku merasakan ada kecemasan disana.

10 Mei 2012

Siang ini sebenarnya makan siang paling nggak enak dalam hidupku. Kenapa begitu? Ada deeehh mo tau aja..duh fokus donkk…fokuss…!!

Tapi disela-sela tidak enaknya makan siang ku hari ini, hp ku berbunyi..ada sms masuk, dan ternyata dari Umi.

“Kak teman Umi tu udah ketemu, katanya dia mau ketemu kakak besok siang, dia mau balikian Hp kak Nunik asalkan uangnya diganti enam ratus ribu. Tapi kita bertiga aja ketemunya ya kak, kakak jangan bawa orang lain, sekalian dia mau jelasin sama kakak.”

Aku sontak kaget dan senang ternyata jalan itu makin terang, namun eitsss tunggu….6 ratus ribu?, ketemu bertiga aja?..Permasalahan ini sebenarnya tinggal satu langkah lagi, tapi kenapa pas di akhir ini pula dilemma, buah simalakama itu timbul???

Aku dan Nunik jujur takut. Karena apa si Umi itu termasuk anak SMu yang tomboy dan pemberani. Dalam bayanganku teman-teman si Umi itu kayak berandal2 gitu…. Aku dan Nunik benar-benar pusing dibuatnya mikirin gimana buat hadapin mereka nanti. Strategi2 konyol, rencana-rencana sempat singgah dikepala, tapi lagi-lagi aku mesti ingat resikonya.

Aku tau semua pasti pada bilang, kenapa nggak bawa polisi aja, kenapa nggak ini nggak itu, kenapa nggak labrak aja…ah ngomong itu memang nggak sesulit menghadapinya.. J maksudku ngomong itu emang mudah, tapi coba kalau diposisiku sekarang ini pasti nggak se simpel itu. Aku masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika aku terlalu gegabah sampai-sampai bawa polisi dalam hal ini akibatnya bisa saja berkepanjangan. Ah aku bingung sob……………..!!

Aku nggak tau nasib ku kedepan gimana nih…

Tapi bagaimanapun, pertemuan itu harus terjadi..

AllahuAkbar..🙂

Tobe continued…

 

17 thoughts on “Mengejar Maling Part II

  1. waduh panjang bener nasob tuh hape. di ganti 600rebu? mau mnta duit kali tuh si umi
    ati2 se yo ni. di daerah situ emng masih kental main ilmu ilmu tuh. semoga hape nyo baliak tanpa harus kalua pitih🙂

  2. nunggu lagi deh…
    berat juga ya, ga enak nuduh karena teman sendiri tapi ttp aja harus diselesaikan karena sudah beberapa langkah lg selesai..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s