Cinta dan Munajat Kehilangan

Kali ini aku mau posting hal yang agak serius, sstttt… Sebenarnya ini salah satu dari sekian essai penggugah jiwa😀 dari sebuah buku saku yang aku dapat dari bonus pembelian sebuah majalah islami. Majalah yang ditawarkan oleh seorang pedagang buku keliling, diatas bus yang biasa aku tumpangi. Kemasan majalahnya sih masih baru, cuma tanggal nya udah gak up to date…harganya pun lebih murah daripada harga yang tertera di dalam Majalah itu. Awalnya sih iseng aja beli, cuma siapa sangka ternyata buku saku hasil tulisan Muaz El Abdul itu sangat amat membuat aku hmmm..gak bisa berkata-kata…kalo kata pak Mario sUUUpppperrr….

Cekidot->

“Seberapa besarkah cinta menampung airmata??? Mengapa cinta selalu menyediakan kantung-kantung air mata yang tidak pernah habis??. Bukakah cinta sejatinya adalah ceruk-ceruk bahagia, tawa dan kedamaian jiwa??”

Sebuah kalimat Danarto dalam cerpen  Guna-Guna dan Gula-Gula : rumus hidup bahagia ala para sufi itu tidak memiliki apa-apa dan dimiliki apa-apa. Senafas dalam kalimat tersebut : Cinta memilik apa-apa dan dimiliki apa-apa.

Cinta seperti ini hakikatnya, menilai pasangan hidup masing-masing layaknya benda; obyek yang bisa direngkuh, yang bila ia lepas dari rengkuhan, si pecinta akan stress bukan kepalang. Sebab, ia merasa hidupnya ada disana, ada di objek itu. Begitulah metafor cinta memiliki. Dalam bahasa filsuf Erich Fromm, itulah cinta yang disebutnya mode of having (bentuk memiliki). Cinta model ini begitu lumrah. Lakunya seperti ini : Semakin kita memilik cinta tipe ini, semakin sakitlah kita merasakan akibatnya. Siapapun yang kita cintai dan apapun yang kita cintai, bila selimutnya kepemilikan, pasti ujung-ujungnya sembilu yang mengoyak jiwa.

Karena itu, tak aneh, bila banyak kisa para pecinta yang dimabuk asmara lalu kemudian memutuskan untuk menikah, tiba-tiba mendapati pasangannya berubah menjadi pribadi yang berbeda setelah berumah tangga. Kedua belah pihak seringkali merasakan hubungan yang hambar, jenuh, bosan dan bahkan banyak sekali cerita nestapa.

Filsuf Socrates suatu hari ketika ditanya : “Mengapa Engkau tidak pernah bersedih?” Dia menjawab, “Karena aku tidak memiliki benda-benda yang kehilangannya membuatku bersedih”, Dia ditanya lagi, “Mengapa Anda tidak memiliki hasrat kepada benda-benda yang menyokong hidupmu?”. Dia menjawab, “Karena aku takut diriku dikuasai benda-benda itu sehingga mereka membuatku terancam”.

Yah, banyak orang menderita, trauma, menjadi pesakitan, dan bahkan gila lantaran merasa hidup atas dasar cinta ‘memiliki apa-apa dan dimiliki apa-apa’. Padahal satu hembusan nafas yang kita hirup adalah sebuah pinjaman ilahi. Apalagi sesuatu yang kita sebut pasangan hidup (suami-istri), anak, orang tua, sahabat. Semua itu pinjamanNya. Semua amanahNya. Oleh karena itu, maka laku mencintainya pun sebatas menjaga amanah itu. Ini artinya siapapun yang membuat kita begitu mencintainya., disitulah Allah menguji keimanan kita. Apakah kita bisa menjaga dan merawat titipan-Nya? Apakah kita bisa menempatkan amanah itu sebagai ladang amal ibadah yang kelak akan diserahkan kembali kepada-Nya?

Bila fondasi ini yang dijadikan the way of loving. Maka tugas sang pecinta hanya menemani, mengawasi, mengawal, dan menjaganya dengan baik dan cara terbaik. Rumusan cinta seperti inilah yang dikatakan oleh Erich Fromm sebagai cinta mode of being (bentuk menjadi); sebentuk cinta yang membuat orang yang dicintai merasa menjadi pribadi yang baik dari hari ke hari. Pun sebaliknya. Inilah model cinta yang menghasilkan energi aktif, energi yang bila kita kehilangannya kita bukan bersedih lantaran kepergiannya, tapi terharu karena merasa belum maksimal menjadi sang pemegang amanah ilahi.

#Doa nabi Nuh ketika kehilangan

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

# Q.S Al-Baqarah : 216

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Semoga bermanfaat yaa…terutama untuk diriku sendiri….😀

Terima kasih buat  mas Muaz El Abdul atas tulisannya di buku saku itu yang sangat ah..aku tidak bisa berkata-kata, tapi kalo kata Pak Mario…suppperrrr…, dan terima kasih juga udah mau balas pesan ku di fb… hehe..

One thought on “Cinta dan Munajat Kehilangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s