Sulaman Ampek Angkek

Sebelum punya pekerjaan tetap biasanya dulu aku menghabiskan waktu luang dengan menyulam. Kemampuan menyulam aku pelajari dari Mama yang memang sudah dari kecil biasa menyulam, karena sudah terbiasa hasil sulaman mama nampak indah dan halus. Yah, memang sudah pada umumnya di daerahku tepatnya di Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam para ibu rumah tangga atau anak gadisnya terbiasa menyulam. Kain-kain untuk disulam biasanya diperoleh dari salah seorang pengelola sulaman, dan kami yang menyulam biasanya dinamakan “anak jahit” dari pengelola sulaman tersebut.

SEJARAH

Kerajinan ini sudah jadi turun temurun sejak abad ke-18 di Kecamatan Ampek Angkek, yang diperkenalkan oleh pedagang arab bernama Khadijah dan Maryam. Tidak seperti sulaman lainnya, sulaman Ampek Angkek tidak bisa dilakukan dengan mesin karena motifnya yang rumit. Pernah dicoba oleh pemerintah Jepang yang menawarkan teknologi untuk membuat sulaman ini, tetapi akhirnya menyerah karena hasilnya tidak bisa menandingi dengan buatan tangan manusia. Sampai sekarang kerajinan ini masih bertahan, motif dan jenis sulamannya mulai beragam, pemasarannya pun mulai tersebar di seluruh pelosok tanah air bahkan hingga negeri tetangga.

TEKHNIK DAN MOTIF SULAMAN

Sulaman-sulaman indah ini dibuat diatas alat yang disebut dengan “Pamedangan”. Pamedangan adalah sebuah kayu yang di bentuk sedemikian rupa menjadi persegi empat, berfungsi untuk meregangkan kain agar hasil sulaman terlihat lebih bagus. Setelah kain diregangkan pola dilukis dan kemudian siap disulam sesuai dengan motifdan jenis sulaman yang diinginkan.

Pamedangan

Pamedangan

Beberapa motif sulaman yang ada yaitu sulaman suji cair, sulaman kapalo samek, sulaman bayang, sulaman pita dan masih banyak lagi. Tingkat kesulitan pembuatannya pun berbeda-beda, seperti suji cair misalnya kita harus memadukan warna satu benang yang mencair di atas warna benang lainnya, pengerjaannya harus rapi dan halus. Lain lagi dengan motif kapalo samek, hasil akhir sulaman jenis ini nantinya menghasilkan seperti kepala samek atau peniti. Nah untuk sulam pita yang lagi marak sekarang ini menggunakan pita sebagai ganti benang untuk menyulam. Produk sulaman ini bisa berupa baju, selendang, taplak meja, mukena, jilbab dan aneka motif pakaian lainnya.

Sulam Pita

Sulam Pita

SulamTimbul dan Kapalo Samek

SulamTimbul dan Kapalo Samek

Untuk harganya pun beragam, mulai dari ratusan sampai jutaan rupiah tergantung pada tingkat kesulitan dan lama pengerjaannya. Disamping itu juga tergantung pada jenis pakaian yang disulam, untuk jilbab yang memiliki bidang kecil biasanya dihargai mulai dari 80 ribu rupiah sedangkan untuk mukena dan baju kurung berkisaran mulai dari 200 ribu rupiah.

PERKEMBANGAN SULAMAN AMPEK ANGKEK
Para pengelola sulaman di daerah Ampek Angkek sudah banyak yang memasarkan produksinya ke berbagai daerah di tanah air, bahkan juga ke negeri tetangga. Salah satu pengelola sulaman yang terkenal yaitu Hj. Rosma yang produk sulamannya sudah terkenal bukan hanya di Malaysia, Singapura, Brunei tapi juga Jepang, Eropa dan Australia.

Bupati Agam bersama Ketua Yayasan Sulaman Indonesia Ny Vita

Bupati Agam bersama Ketua Yayasan Sulaman Indonesia Ny Vita (agammediacenter.com)

Event Festival Sulaman Indonesia (FSI) yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC) Oktober lalupun berhasil menambah harum nama Sumatera Barat. Sulaman Kabupaten Agam yang dipercayai provinsi dan pusat dalam acara ini berhasil menarik perhatian para tamu dari berbagai Negara. Hal ini juga sebelumnya yang menjadikan Nagari Balai Gurah Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam terpilih sebagai sebagai daerah sentra sulaman Indonesia oleh Yayasan Sulaman Indonesia (YSI) beserta Ketua Dekranasda Provinsi Sumbar.

Dalam acara FSI itu juga sulaman Ampek Angkek terpilih sebagai sulaman terpopuler serta terbaik di tinggat internasional, dan mampu memecahkan rekor dunia dengan.
Sulaman terpanjang didunia yang memiliki panjang 20 Meter, dengan pengrajin sebanyak 23 orang.

Aku sebagai warga Ampek Angkek dan juga sebagai anak jahit jujur sangat bangga dengan prestasi ini. Semoga akan terus ada prestasi-prestasi yang mengharumkan nama bangsa ditengah kebisingan, hiruk pikuk masalah yang memburamkan citra bangsa kita. :-)

About these ads

58 thoughts on “Sulaman Ampek Angkek

  1. Andrian Rizki berkata:

    Hj.Roekayah Ahmad jg itu sist.beliau dan anaknya Yulia Dewi Anggraini mengembangkan sulaman tangan di Koto Tuo yg bernama Arena Sulam.

  2. andrian rizki berkata:

    Hj.Roekayah Ahmad dam amalnya Yulia Dewi Anggraine jg mengembnagkan sulaman tangan di koto tuo ampek angkek yg bernama Arena Sulam.

  3. Waah..sulaman yg mengagumkan ini..ngak bisa pake mesin..
    Memang sih, handycraft sering membuat kita kagum sendiri, karena itu bisa jadi mahal..
    Hmm..jadi ingin di sulam..eh, punya sulamannya..hehe
    Ini informasi yg menarik, mbak..hmm..

    • hehe…mesin memang bisa apa aja…tapi ada hal juga yang nggak bisa dilakukan mesin.. :-)
      apalagi soal sulaman…hasilnya memang jauh lebih bagus dri pada sulman yang dilakukan dg mesin ;-)

    • Lumayan banyak mbak ika….dsana juga ada pasar khusus nya dmana kita bsa dg mudah menemukan sulaman2 sesuai selera atau klo mau lbh murah lgsg ke galerinya…#promosi banget yah :-D

  4. LJ berkata:

    kereenn Izza.. senang membacanya..
    semoga kerajinan sulaman ini tetap ada penerusnya,
    dan semoga makin banyak anak gadih yg tertarik menyulam spt Izza.

    jaman dulu belum boleh nikah klo belum bisa menyulam.. :D

  5. Tu Sulamannya bagus.
    Sulam Ampek angkek?? ap ada hubungan sama peribahasa “tak tahu diampek??”” hehehee
    Daerah agam kalo nggak salah, tuh daerah asal mula silek harimau ya Bundo??

    • hehe ya beda donk…
      kalo “tak tahu diampek” itu beda lagi rifai hehehe…
      tak tahu diampek itu sama dengan nggak tahu sopan santun :-)
      silek harimau…wah rifai suka silek ya? :lol:

  6. Turut bangga dgn prestasi ampek angkek,khususnya balai gurah,walau tidak tinggal di balai gurah tapi akan ambil bagian dalam pelestarian karya anak negeri.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s